Jumat , 13 Desember 2019
Home / MAKASSAR / Imam Besar Masjid New York Syamsi Ali Temui Pj Wali Kota Makassar

Imam Besar Masjid New York Syamsi Ali Temui Pj Wali Kota Makassar

MAKASSAR – Imam Besar Islamic Center of New York Amerika Serikat, Muhammad Syamsi Ali menemui Penjabat Walikota Makassar, Iqbal S Suhaeb di rumah jabatan Walikota, Sabtu (25/5/2019).

Direktur Jamaica Muslim Center, sebuah yayasan dan masjid di kawasan timur New York yang dikelola komunitas muslim asal Asia Selatan itu didampingi ketua Kerukunan Keluarga Besar (KKB) Bulukumba.

“Kedatangan kami menemui Pj Walikota untuk bersilaturahim,” kata Ahmad S Ilham, Wakil Bendahara KKB Bulukumba yang juga Pemimpin Wilayah Bank Muamalat Sulampua yang turut hadir mendampingi Imam Syamsi Ali.

Penjabat Walikota Makassar Iqbal S Suhaeb berharap kedepan Pemkot Makassar dapat bekerjasam dengan Nusantara Foundation.

Dalam kesempatan tersebut Imam Syamsi memaparkan pesantren Nusantara dan kondisi Ramadhan serta suka duka berpuasa di Negeri Paman Sam.

Muhammad Syamsi Ali, adalah putra kelahiran Kabupaten Bulukumba. Selain sebagai Imam di Islamic Center of New York, sejak 1997  lelaki kelahiran 5 Oktober 1967 itu  adalah Direktur Jamaica Muslim Center, sebuah yayasan dan masjid di kawasan timur New York. Lembaga ini dikelola komunitas muslim asal Asia Selatan.

Syamsi Ali aktif dalam kegiatan dakwah Islam dan komunikasi antaragama di Amerika Serikat, terutama di kawasan pantai timur.

Tokoh asal Bugis ini bukan sekadar warga biasa. Ayah lima anak ini adalah Imam dan Ketua Yayasan Masjid Al-Hikmah, yang didirikan muslim Indonesia di Astoria. Ia juga Direktur Jamaica Muslim Center di Queens. Sudah 20 tahun lebih ia tinggal di New York.

Nama Syamsi Ali populer sejak serangan 11 September yang merobohkan World Trade Center dan mengoyak Pentagon. Sejak peristiwa yang menggemparkan dunia itu Syamsi Ali menggelar beragam kegiatan. Ia rajin mengenalkan Islam ke gereja dan sinagog. Ia juga bekerja sama dengan kelompok Yahudi dan Kristen.

Awal menjadi imam di New York berkat undangan Duta Besar Republik Indonesia untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) saat itu yang saat itu dijabat Nugroho Wisnumurti.

Pada 2006, namanya masuk daftar tujuh tokoh agama paling berpengaruh di New York oleh New York Magazine.  Ia juga merupakan satu dari 100 orang penerima  Ellis Island Medal of Honor Award, penghargaan non-militer tertinggi yang diberikan kepada imigran yang memberikan kontribusi besar kepada masyarakat Amerika dan dunia oleh Organisasi Koalisi Etnik Nasional.

Penghargaan ini hanya pernah diterima oleh tokoh-tokoh terkenal. Di antaranya mantan presiden, tokoh politik Amerika, milyoner yang sekarang menjadi presiden AS, Donald Trump, altlet tinju dunia Muhammad Ali atau tokoh dunia seperti mantan Presiden Majelis Sidang Uumum PBB, Sheikha Haya Rashid Al Khalifa.

Syamsi Ali pernah mewakili umat Islam New York mendampingi Presiden AS George Bush ketika berkunjung ke Ground Zero pasca serangan 11 September 2001. Ia juga mewakili masyarakat muslim dalam perhelatan akbar “Pray for America” di Yankee Stadium setelah tragedi 11 September bersama mantan Presiden Clinton, Senator Hillary Clinton, serta pejabat tinggi New York lainnya.

Di kalangan pers, Syamsi adalah narasumber utama media-media massa New York, terutama dalam menanggapi suatu peristiwa penting. Munculnya orang Indonesia sebagai pemuka Muslim di New York merupakan suatu hal yang cukup unik, karena meskipun Indonesia sebagai negara berpenduduk Muslim terbesar di dunia, namun jumlah Muslim asal Indonesia yang berdomisili di kota tersebut relatif sedikit.

Dari sekitar 800 ribu lebih muslim di New York, mayoritas adalah keturunan dari Timur Tengah, Asia Selatan (Pakistan dan Bangladesh), dan Afrika. Tiga kelompok mayoritas Muslim ini justru sering mempercayai Shamsi Ali sebagai pimpinan.

Di kantornya di Islamic Center of New York, Syamsi membuka kelas khusus tiap pekan bagi orang-orang non-muslim yang ingin mengetahui lebih jauh mengenai ajaran Islam. Di forum itulah ia ditantang untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan kritis, terutama mengenai tindakan negatif dari kelompok-kelompok tertentu yang sering mengatasnamakan Islam. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *